Music is My Memory

Musik

Tanpa Musik, hidup hambar spt teh tanpa gula

Musik, salah satu elemen penting hidupku yang menghiasi hari-hariku selain warna, lukisan, dan bintang di angkasa. Musik, penambah stimulasi semangatku memulai hari yang baru. Kuinterpertasikan musik dalam berbagai macam rupa, musik laksana es jus lemon dingin di pagi hari, secangkir susu coklat hangat di saat hujan atau hangatnya matahari jelang siang yang terik. Terkadang notasi musikpun bisa jadi sebuah kenangan yang tak terlupakan di satu masa ataupun sebuah inspirasi. Sebetulnya aku sendiri sudah dengar musik sejak dalam kandungan. Mungkin terdengar lucu, setidaknya ada 10 track list lagu lama  yang paling berkesan di antara ratusan lagu favorit di ipod shuffleku.

  1. Peabo Bryson (If Ever You’re in My Arms Again)
  2. Michael Franks (Egg Plant)
  3. STYX (Babe)
  4. Mint Royale feat. Lauren Laverne  (Don’t Falter)
  5. Billie Myers (Kiss The Rain)
  6. Dolly Parton (Here You Come Again)
  7. Christopher Cross (Sailing)
  8. Journey (Don’t Stop Believin’)
  9. Roger Whittaker (Streets of London)
  10. Jay Graydon (Roxann)

Kubiarkan semua kenangan masa lalu tenggelam terkubur bersama alunan musik. Saat itulah kutersenyum, masa kecil dalam khayalku (Dily Pratiwi)

Teka Teki Tak Terpecahkan

Life is not simple, Life is not easy

Kata-kata itulah yang awali blog ini setelah berjuang 10 bulan mendampingi ayahku dalam penyakit misterius. Bolak-balik ke 11 Rumah Sakit, perjuangan semakin terasa berat. Beberapa dokter spesialis saraf memiliki diagnosa yang berbeda-beda sehingga wajar keluarga pasien ikut kebingungan. Berapa banyak obat & pengeluaran yg sudah tak terbayangkan. Setelah ikuti terapi bio imunomodulator, terakhir ayahku bukan divonis ALS tapi penyakit langka yang misterius, lalu ayahku sakit apa? Jelas ujian mental, spiritual & fisik sudah terasa berlipat ganda di atas rata-rata. Yup, nyatanya wajahku jauh lebih terlihat tirus beberapa kali lipat daripada saat lulus thesis 4 tahun lalu. Beberapa kali teman & kerabat keluarga berkunjung ke rumah ingin lihat kondisi ayah yg tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Di balik semua ini, satu kali ibuku sempat bercerita “Semua dokter tak bisa menjawab teka teki ini, ingat mereka hanya manusia biasa. hanya Allah dokter terbaik di muka bumi, Percayalah, mungkin ada jalan terbaik dari Allah, mungkinkah ini azab? belum tentu nak, tergantung bagaimana cara kita mempresepsikan sebuah kejadian. Jika berburuk sangka, maka ujian ini disebut azab. Jika berbaik sangka, maka ujian ini adalah anugrah. Jika kita berjuang hingga akhir, maka kita adalah pemenangnya. Mungkin setelahnya, kita hijrah menjadi manusia yg lebih baik & lebih menghargai arti hidup. Kita hanya bisa berusaha terbaik sebatas manusia biasa, selebihnya urusan Allah”.  Dari sini kuingat sepenggal ayat Alam Nasrah yg kuingat “Fa inna ma yusri urso”, di balik kesempitan ada kelapangan.

Taukah sesungguhnya harta mana yang paling terbesar di dunia? Uang? Jabatan? Kedudukan? Salah besar, jangan pertanyakan harta yang berhubungan dengan hal-hal yang duniawi.

Informasi

Itulah harta terbesar sesungguhnya yg sering dilupakan sebagian besar manusia, justru banyak yg tdk mensyukurinya. Jika dapat hidayah, minimal kita telah mendapatkan 1 berita positif di antara jutaan informasi di alam semesta. Saat kita mendapatkan informasi tentang kesehatan, maka kita akan berpikiran ingin hidup sehat. Tanpa informasi, tidak ada artinya hidup kita sebagai manusia.

Kuakui penyakit ayahku tetap teka-teki misteri terbesar hidupku saat ini, melebihi kapasitas kemampuanku sebagai manusia. Pelajaran terbesar yang bisa dipetik, sebanyak apapun harta yang berlimpah tidak akan mampu membayar penyakit yg tak terobati. Hargai setiap nafas dalam sehat. Bersyukurlah apa yang ada dalam kesederhanaan hidup, jangan berharap yg lebih di luar ekspektasi diri kita. Secukupnya dan semampunya. Manusia hakikatnya tidak bisa hidup sendiri. Sehebat apapun kita, ujung-ujungnya kita akan tetap kembali ke keluarga. ketika kita tiada, kita kembali pada Sang Pencipta (Dily Pratiwi)

AKU & ALS

Bertarung melawan nasib selama hampir 2 tahun, melepaskan segala beban di hati. Hari ini, 24 Februari 2016, aku menyadari bahwa memiliki salah satu anggota keluarga pengidap ALS tidaklah mudah. ALS (Amyothrophy Lateral Sclerosis) menjadi salah satu penyakit syaraf yang paling langka di dunia. Berdasarkan beberapa penelitian di Amerika, 30.000 orang per tahun didiagnosa mengidap ALS. Lucunya, ayahku sendiri saat ini termasuk penyandang ALS masuk ke tahap kronis dengan hasil diagnosa dokter “Polineuropati type Axonal”. Aku termasuk anak yang awam sekali dengan istilah- istilah kedokteran seperti ini. ALS dapat diterjemahkan ke dalam beberapa julukan lain yaitu MND (Motor Neuron Disease) dan Lou Gehric Syndrom. Ada penelitian yang juga menyatakan bahwa hampir tidak ada bedanya antara ALS dan GBS (Guillain-Barré Syndrom), yaitu sama-sama tidak ada obat penawarnya. Hanya bisa bertahan hidup dengan obat-obat vitamin dan fisioterapi. Menurut opini pribadi, penyakit stroke terbilang penyakit umum di Indonesia dan banyak institusi organisasi dan NGO bekerja sebagai fasilitator di dalamnya, sedangkan ALS tidak ada di Indonesia. Sayangnya ALS tidak pernah terblow-up ke masyarakat umum padahal efek bahayanya luar biasa besar karena sifatnya auto-imun yaitu sel-sel badan merusak dirinya sendiri. Untuk kedepannya diary ini akan menuliskan lebih banyak perjalanan hidup ayah saya dalam melawan ALS (Dily Pratiwi).

Bohong Dusta itu Seperti Narkotik

Sering kali timbul sebuah pola pandang yang super sederhana dalam pemikiran kita, dengan tagline “Terkadang bohong itu nikmat lhooo” bagi tukang bual atau “bohong itu dosa” bagi kalangan priyayi yg alim. Coba deh boleh jujur, apakah seumur hidup kita tidak pernah berbohong sebagai manusia?? hahahaha  kita sebagai manusia pernah bohong, meskipun itu bohong putih yang tidak merugikan diri sendiri ataupun orang lain. Apakah kita boleh berbohong?? boleh, sah-sah saja jika kita melihat situasi jaman sekarang yg keras & dingin. Terkadang ada saatnya kita perlu menggunakan kebohongan sebagai senjata jitu pertahanan kita tapi digunakan dengan niat apa kita layak untuk berbohong. berbohong untuk niat kebaikan atau keburukan. Batas parameter pembedanya adalah bohong untuk memproteksi diri sendiri & keluarga dari kedzoliman orang lain atau memproteksi diri sendiri demi nafsu duniawi. Kebohongan yang baik selayaknya bisa terukur dengan hati nurani, moral dan akal sehat, maka mereka layak disebut sekumpulan orang smart yang mampu bikin strategi & mengambil keputusan yang tepat. Mereka tahu kapan mereka harus jujur dan kapan harus berbohong demi kebaikan, pantang bohong dusta. Pembohong yang paling  menyedihkan tetaplah pembohong dusta karena tetap keras kepala dengan nafsu diri. Terkadang kita lupa orang-orang inilah yang termanipulasi dengan entitas yg disebut “Bohong Palsu” sebagai kebutuhan dasar mereka, dunia gak lengkap tanpa kebohongan dalam 1 hari. Saya juga pernah menyaksikan perilaku satu teman sekolah saya kalo tiap hari gak bohong bagai makanan tanpa garam. Percaya atau tidak, sejauh saya memandang lepas diri yang sudah nikmat hidup penuh dengan kebohongan palsu itu sulitnya setengah mati seperti kecanduan narkotik atau rokok. Cara jitu melepaskan kebohongan dusta yang mengakar: percaya akan pertolongan Tuhan, banggalah & jadilah diri sendiri, karena kita sejatinya manusia lahir ke dunia untuk menjadi seorang pahlawan. Gak bisa mengubah dunia, minimal mengubah perilaku diri sendiri, mulai gak pernah bohong terhadap orang tua tentang apapun itu. Mereka jauh lebih respek & mengerti jika anak berkata jujur dari hati. Kenapa kita butuh bohong putih?? Yup, jelas kita tetap butuh hidup jujur tapi gak boleh naif dalam memandang sebuah kehidupan. Yang tetap perlu diingat adalah bohong dusta itu hal yg mengerikan seperti narkotik, jadi perlu dijauhi & jangan dicoba-coba masuk ke dalamnya. betulan susah keluarnya